Header Ads

TENTANG ADAT ALAS - NEKHAYE NGIKHIK



Nekhaye Ngikhik adalah sebuah tradisi suku adat Alas jaman dahulu  dimana tradisi ini dilaksanakan  pada saat Panen Padi (Page), setelah padi dipotong dan ditumpuk di dalam sebuah pondok (sapo bawan) maka tumpukan ini akan disebut dengan Binuh.
Nekhaye Ngirik ini biasanya dilakukan pada malam hari dimana pemuda-pemudi setempat di undang (Mbagah) untuk menyesaikan tumpukan padi yang belum terpisah dengan jerami tersebut, dimana kaum laki-laki bertugas untuk memisahkan padi dari jerami  dengan cara di injak-injak(Ngikhik) hingga sebagian besar padi akan terpisah dengan jeraminya dan Kaum perempuan bertugas untuk pemungutan jerami dan padi yang telah di injak-injak oleh kaum laki-laki dan memasukkannya ke dalam goni yang disebut dengan Nasakhi dan memberikan ikatan-ikatan padi kepada kaum laki-laki.
Hal yang peling menarik dari tradisi ini adalah :

a.       Perjalanan
Setelah pemuda dan pemudi yang di undang telah dating dan berkumpul di rumah orang yang mengundang (Tuan Sukut) maka pemuda, pemudi maupun tuan sukut akan bersama-sama menuju sawah dengan iring-iringan suara canang yang dimainkan oleh Kaum Perempuan dan beberapa orang lainnya membawa obor sebagai penerangan dikala itu.

b.      Makanan
Dalam acara ini makanan yang khas di hidangkan adalah Pulut yang  dikukus dan dikasih kelapa parut yang dalam bahasa Alas disebut dengan Puket Nakan, karna dilakukan pada malam hari maka minuman yang akan disuguhkan untuk orang yang ikut dengan Nekahye Ngikhik ini adalah Kopi supaya mata tetap melek sepanjang malam.

c.       Ajang Untuk Mencari Jodoh
Selain acara ini mencerminkan rasa kerja sama dan persatuan yang kuat antara suku Alas, acara ini juga sebagai ajang bertemunya  Pemuda dan Pemudi  dari berbagai desa, karna biasanya jika pemuda dari desa A maka pemudi bisa dari desa B, C maupun D tergantung usulan dari pemuda yang mengikuti acara ini. Hal inilah yang membuat pemuda bersemangat untuk mengikuti acara ini sampek berlomba siapa yang gagah dalam hal ngikhik dialah yang sering di lirik oleh kaum wanita yang ada di tempat tersebut.

d.      Kesenian Yang Ditampilkan 
Kaum wanita yang pekerjaan belum ada karna belum banyak yang disiapkan sasakhen (Jerami yang masih ada padinnya yang harus juga lagi dipisahkan oleh kaum perempuan karna kaum tidak semua padi akan terlepas walaupun sudah di injak-injak oleh kaum laki-laki dan pihak perempuan akan memisahkannya dengan tangan) oleh kaum laki-laki maka kaum perempuan memukul canang (Alat music tradional adat Alas) tetapi setelah kaum laki-laki menyiapkan sasakhen  maka giliran perempuanlah yang bekerja dan laki-laki beristirahat, dalam istirahat kaum laki-laki Melagam (Sebuah tradisi seperti bernyanyi untuk mengungkapkan perasaan terhadap wanita yang disukai).

Posting By: KANDI IRAWAN
Related Search

Kutacane, Kutacane online, Aceh Tenggara, Agara, Badar, Lawe Alas, Tanoh Alas, Babussalam, Bambel, Lawe Bulan, Ketambe, Lawe Dua, Alas river, sungai alas, Gunung leuser, leuser mountain, Aceh, indonesia.

4 comments

Anonymous said...

Ee. . .
Gedikin nine. Mantap ndi trus tambah tulisan mengenai adat alas kane ulang generasite lupe akan seni budaye te si dube. . . .

Anonymous said...

thank atas tulisannya. . .!

Anonymous said...

Mantap, terusken gat tulisen nin....de nemu ulang lupe neliti terus tentang tanoh alas te...

KANDI IRAWAN said...

Insya Allah akan di perbanyak tule tulisen mengenat Adat-istiadat di tanoh alas nde. . . .